Beranda » Nasional » Harga Sembako Melonjak dan Persediaan Menipis, Pendapatan Pedagang Pasar Kopro Turun Drastis

Harga Sembako Melonjak dan Persediaan Menipis, Pendapatan Pedagang Pasar Kopro Turun Drastis

Harga bahan pangan yang terus naik sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026 memberi dampak signifikan pada kondisi pasar tradisional di berbagai wilayah Indonesia. Salah satunya adalah Pasar Kopro, salah satu pasar tradisional yang cukup ramai di kawasan Jakarta Selatan. Pedagang di sini mengalami penurunan omzet hingga 40 persen akibat daya beli masyarakat yang melemah dan stok barang yang terbatas.

Penurunan omzet ini bukan hanya disebabkan oleh lonjakan harga sembako, tetapi juga karena pola konsumsi warga yang mulai beralih ke toko daring atau supermarket modern. Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya sistem perdagangan tradisional ketika menghadapi tekanan ekonomi makro.

Penyebab Turunnya Omzet Pedagang

Kenaikan harga bahan pokok tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga para pelaku usaha kecil, khususnya pedagang pasar tradisional. Di Pasar Kopro, sejumlah faktor saling terkait dan memperparah situasi.

1. Lonjakan Harga Bahan Pokok

Sejak pertengahan 2025, harga beberapa komoditas utama seperti cabai merah, bawang merah, dan daging ayam mengalami kenaikan hingga 30 persen. Hal ini membuat banyak pedagang enggan membeli dalam jumlah besar karena takut tidak laku.

2. Stok Barang yang Terbatas

Keterbatasan pasokan membuat pedagang terpaksa memangkas jenis barang dagangan. Beberapa pedagang bahkan mengurangi jam operasional karena tidak punya cukup stok untuk dijual sepanjang hari.

3. Daya Beli Masyarakat Menurun

Masyarakat dengan pendapatan terbatas mulai mengurangi belanja harian mereka. Banyak yang beralih ke opsi belanja daring atau memilih produk yang lebih murah, meskipun kualitasnya kurang baik.

4. Persaingan dengan E-commerce

Belanja daring yang praktis dan sering kali lebih murah membuat pedagang pasar tradisional kalah saing. Ini menjadi tantangan besar bagi pasar tradisional yang belum memiliki strategi digital.

Baca Juga:  GIAS 2026 Jadi Ajang Buruan Mobil Listrik, Hadirkan Banyak Model Terbaru dan Diskon Menarik

Dampak pada Pedagang dan Pengunjung Pasar

Turunnya omzet tidak hanya berdampak pada pendapatan pedagang, tetapi juga mengganggu aktivitas pasar secara keseluruhan. Suasana pasar yang biasanya ramai mulai sepi, terutama di pagi hari.

Beberapa pedagang mengaku bahwa pengunjung pasar turun hingga 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Padahal, Pasar Kopro dulunya dikenal sebagai tempat belanja andalan masyarakat sekitar.

Banyak pedagang juga mengurangi investasi untuk restok barang. Mereka lebih memilih menjaga modal daripada mengambil risiko rugi besar akibat stok yang tidak laku terjual.

Strategi yang Bisa Diterapkan Pedagang

Meski menghadapi tekanan besar, beberapa pedagang mencoba bangkit dengan menerapkan strategi baru. Mulai dari penyesuaian harga hingga kolaborasi dengan pedagang lain untuk membagi beban biaya.

1. Alihkan Fokus ke Produk Lokal

Beberapa pedagang mulai menjual produk lokal yang harganya lebih stabil dan memiliki nilai tambah. Misalnya, hasil pertanian dari petani lokal yang langsung didatangkan ke pasar.

2. Gunakan Media Sosial untuk Promosi

Pedagang yang lebih adaptif mulai menggunakan WhatsApp dan Instagram untuk menawarkan produk kepada pelanggan setia. Cara ini membantu meningkatkan visibilitas dan menarik kembali minat pembeli.

3. Kolaborasi Antarpedagang

Kerja sama antarpedagang untuk membeli barang dalam jumlah besar membantu mengurangi biaya distribusi. Ini juga memungkinkan mereka mendapat harga grosir yang lebih kompetitif.

4. Tawarkan Paket Hemat

Beberapa pedagang menyediakan paket belanja hemat yang berisi kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Ini menarik minat konsumen yang ingin berhemat.

Baca Juga:  Stok BBM Aceh Singkil Cukup Aman, Warga Diminta Beli BBM Sesuai Kebutuhan Saja

Data Perbandingan Omzet Pasar Kopro (Sebelum dan Sesudah Kenaikan Harga)

Komponen Sebelum Kenaikan Harga (2024) Setelah Kenaikan Harga (2025) Penurunan (%)
Rata-rata omzet/hari Rp 800.000 Rp 480.000 40%
Jumlah pengunjung/hari 1.200 orang 600 orang 50%
Jenis barang tersedia 100 jenis 70 jenis 30%

Disclaimer: Data bersifat estimasi berdasarkan observasi lapangan dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Peran Pemerintah dalam Mendukung Pasar Tradisional

Peran pemerintah daerah sangat penting dalam membantu pemulihan kondisi pasar tradisional. Program subsidi, pelatihan digital marketing, dan revitalisasi infrastruktur pasar bisa menjadi langkah konkret.

Namun hingga kini, upaya tersebut masih belum maksimal. Banyak pedagang belum mendapatkan akses yang cukup terhadap program-program tersebut, terutama di tengah keterbatasan informasi dan teknologi.

Kesimpulan

Lonjakan harga bahan pangan dan berkurangnya stok membuat kondisi Pasar Kopro semakin tertekan. Omzet yang anjlok menjadi cerminan dari tantangan besar yang dihadapi pasar tradisional di era digital dan ekonomi yang tidak menentu.

Namun, dengan strategi yang tepat dan dukungan dari semua pihak, pasar tradisional masih punya peluang untuk bangkit. Adaptasi terhadap perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi dan kolaborasi antarpedagang, menjadi kunci keberlangsungannya di masa depan.

Andrea Hirata
Jurnalis

Andrea Hirata Seman Said Harun atau lebih dikenal sebagai Andrea Hirata adalah novelis dan jurnalis yang berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.