Beranda » Berita » Selling IHSG Bikin 631 Saham Merah, Tapi 6 Saham Ini Tetap Menguat

Selling IHSG Bikin 631 Saham Merah, Tapi 6 Saham Ini Tetap Menguat

Hari terkelam bagi pelaku pasar modal Indonesia di tahun 2026 akhirnya tiba.

IHSG anjlok 6,45 persen ke level 7.783 pada perdagangan Kamis (29/1/2026), menyusul keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia. Dari 702 saham yang diperdagangkan, sebanyak 631 emiten kompak merah membara. Hanya 37 saham yang mampu bertahan di zona hijau.

Nah, di tengah badai merah ini, ada segelintir saham yang justru mencetak cuan. Mayoritas berasal dari sektor emas yang memang jadi safe haven saat pasar bergejolak. Berdasarkan analisis BNI Sekuritas per 29 Januari 2026, berikut ulasan lengkap kondisi pasar dan rekomendasi saham yang layak dilirik.

Update Terkini IHSG Kamis 29 Januari 2026

Perdagangan saham pada Kamis pagi dibuka dengan sentimen negatif yang sangat kuat.

Mengacu data RTI yang terekam hingga pukul 09.15 WIB, IHSG yang sempat dibuka di posisi 8.027,828 langsung anjlok sebanyak 536,951 poin. Koreksi tajam ini membawa indeks ke level 7.783,605.

Ringkasan Kondisi Pasar

Indikator Data
Posisi Pembukaan IHSG 8.027,828
Posisi IHSG (09.15 WIB) 7.783,605
Penurunan 536,951 poin (6,45%)
Saham Melemah 631 emiten
Saham Menguat 37 emiten
Saham Stagnan 34 emiten
Total Nilai Transaksi Rp7,843 triliun
Volume Saham Diperdagangkan 8,723 miliar saham

Angka transaksi yang mencapai hampir Rp8 triliun dalam waktu singkat menunjukkan betapa masifnya aksi jual yang terjadi. Kondisi ini melanjutkan tekanan dari perdagangan sehari sebelumnya, di mana IHSG sudah terkoreksi 7,35 persen.

Analisis Penyebab Koreksi Tajam IHSG

Apa sebenarnya yang memicu kejatuhan drastis ini?

Efek Pembekuan Rebalancing MSCI

Pemicu utama kepanikan pasar adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara proses rebalancing indeks untuk saham-saham Indonesia.

Berdasarkan keterangan resmi dari MSCI, keputusan ini diambil karena kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan (free float) dan kelayakan investasi (investability) beberapa emiten besar di Indonesia.

Dilansir dari Detik.com, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelaskan bahwa pembekuan ini memicu aksi panic selling dari investor institusi global. Jika tidak ada perbaikan signifikan hingga Mei 2026, Indonesia berisiko diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Net Sell Asing yang Masif

Pada perdagangan Rabu (28/1), investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp6,12 triliun. Saham-saham big cap menjadi sasaran utama aksi jual, antara lain:

  • BBCA (Bank Central Asia)
  • BMRI (Bank Mandiri)
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia)
  • TLKM (Telkom Indonesia)
  • ANTM (Aneka Tambang)
Baca Juga:  Mengejutkan! Robert Kiyosaki Jual Bitcoin $2,25 Juta di Tengah Harga Turun, Alihkan ke Bisnis Ini

Tekanan jual dari investor asing ini terjadi karena manajer investasi global wajib menyesuaikan portofolio mereka sesuai dengan perubahan bobot indeks MSCI. Ketika ada pembekuan atau pengurangan bobot, otomatis dana akan keluar dari pasar yang terdampak.

Sentimen Regional dan Global

Menariknya, kondisi IHSG berbanding terbalik dengan bursa global lainnya. Sentimen negatif MSCI menjadi faktor lokal yang membuat Indonesia “disconnect” dari tren regional.

Perbandingan Kondisi Bursa Global

Sementara IHSG ambruk, bagaimana kondisi bursa di belahan dunia lain?

Wall Street Amerika Serikat

Indeks-indeks saham di Wall Street justru menunjukkan performa stabil pada Rabu (28/1). The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan, yang memberikan sentimen positif bagi pasar.

Indeks Pergerakan
S&P 500 -0,01% (sempat tembus level 7.000)
Dow Jones Industrial Average +0,02%
Nasdaq Composite +0,17%

S&P 500 bahkan sempat mencetak rekor baru dengan menembus level 7.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Bursa Asia Pasifik

Mayoritas bursa di kawasan Asia Pasifik juga bergerak positif, meski dengan kenaikan terbatas.

Negara Indeks Pergerakan
Jepang Nikkei 225 +0,05%
Jepang Topix -0,79%
Korea Selatan Kospi +1,69%
Korea Selatan Kosdaq +4,70%
Australia S&P/ASX 200 -0,09%
Indonesia IHSG -6,45%

Jelas terlihat bahwa Indonesia menjadi outlier di tengah kondisi bursa regional yang relatif stabil. Ini mengkonfirmasi bahwa faktor domestik—khususnya isu MSCI—menjadi penyebab utama kejatuhan IHSG.

Prediksi Pergerakan IHSG dan Level Support Resistance

Lantas, bagaimana prospek IHSG dalam beberapa hari ke depan?

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyampaikan dalam analisis hariannya bahwa IHSG berpotensi masih melanjutkan pelemahan sebagai efek lanjutan dari pengumuman MSCI.

Level Teknikal yang Perlu Diperhatikan

Level Rentang Keterangan
Support 8.050 – 8.100 Area pertahanan, jika kuat di sini berpotensi rebound
Resistance 8.350 – 8.400 Target kenaikan jika terjadi rebound

Singkatnya, jika IHSG mampu bertahan di area support 8.050-8.100, ada peluang untuk rebound kembali. Namun jika level tersebut jebol, koreksi bisa berlanjut lebih dalam.

Daftar 6 Saham Trading Idea Pilihan Analis

Di tengah kondisi pasar yang merah membara, BNI Sekuritas merilis rekomendasi 6 saham yang layak dipertimbangkan untuk trading. Saham-saham ini mayoritas berasal dari sektor komoditas emas yang cenderung defensif saat pasar bergejolak.

Mengapa saham emas menjadi pilihan? Harga emas global yang menembus level rekor di atas US$5.000 per troy ounce memberikan sentimen positif bagi emiten di sektor ini. Saat investor panik menjual saham-saham konvensional, emas justru menjadi aset safe haven yang diburu.

1. HRTA (Hartadinata Abadi Tbk)

Emiten perhiasan emas ini mencatat kenaikan fantastis hingga 588 persen dalam setahun terakhir. HRTA diuntungkan dari kenaikan permintaan emas di sektor hilir, khususnya perhiasan.

Profil Singkat:

  • Sektor: Perhiasan dan emas
  • Kenaikan YoY: +588%

2. ANTM (Aneka Tambang Tbk)

Sebagai salah satu emiten pertambangan terbesar milik negara, ANTM selalu menjadi pilihan utama saat harga emas naik. Dalam setahun terakhir, saham ini sudah melonjak 224 persen.

Profil Singkat:

  • Sektor: Pertambangan (emas, nikel, bauksit)
  • Kenaikan YoY: +224%
  • Status: BUMN

3. EMAS (Merdeka Gold Resources Tbk)

Saham yang relatif baru di BEI ini langsung menjadi primadona dengan penguatan sekitar 151 persen dalam setahun. EMAS menjadi pilihan menarik bagi trader agresif.

Baca Juga:  15 Aplikasi Trading Saham Terbaik Indonesia 2025, Terdaftar OJK dan Aman untuk Pemula

Profil Singkat:

  • Sektor: Pertambangan emas
  • Kenaikan YoY: +151%

4. PSAB (J Resources Asia Pacific Tbk)

Emiten tambang emas asal grup J Resources ini mencatat kenaikan hampir 200 persen. PSAB memiliki operasi tambang emas di beberapa lokasi strategis di Indonesia.

Profil Singkat:

  • Sektor: Pertambangan emas
  • Kenaikan YoY: +200%

5. ARCI (Archi Indonesia Tbk)

Ini adalah bintang tersembunyi di sektor emas. ARCI mencatat kenaikan tertinggi, tembus hampir 700 persen selama 12 bulan terakhir. Performa luar biasa ini didukung oleh produksi tambang yang solid.

Profil Singkat:

  • Sektor: Pertambangan emas
  • Kenaikan YoY: +700%

6. DOOH (Era Media Sejahtera Tbk)

Berbeda dari 5 saham sebelumnya, DOOH bukan emiten emas melainkan bergerak di sektor media dan advertising. Saham ini masuk rekomendasi karena pola pergerakan teknikalnya yang menarik untuk trading jangka pendek.

Profil Singkat:

  • Sektor: Media dan periklanan digital
  • Kategori: Trading momentum

Level Entry, Target, dan Cutloss Lengkap

Setelah mengetahui profilnya, berikut detail level trading untuk masing-masing saham. Data ini berdasarkan rekomendasi dari BNI Sekuritas per 29 Januari 2026.

Kode Saham Rekomendasi Area Beli (Rp) Cutloss (Rp) Target (Rp)
HRTA Spec Buy 2.200 – 2.320 < 2.100 2.450 – 2.520
ANTM Spec Buy 4.300 – 4.420 < 4.220 4.550 – 4.650
EMAS Spec Buy 6.850 – 7.000 < 6.800 7.125 – 7.325
PSAB Spec Buy 580 – 600 < 575 620 – 645
ARCI Spec Buy 1.900 – 1.940 < 1.860 1.980 – 2.050
DOOH Spec Buy 198 – 206 < 198 218 – 230

Catatan Penting:

  • “Spec Buy” artinya rekomendasi beli spekulatif dengan risiko tinggi
  • Area beli adalah rentang harga ideal untuk entry
  • Cutloss adalah batas kerugian maksimal yang harus ditaati
  • Target adalah ekspektasi harga jual untuk mengambil keuntungan

Rekomendasi ini bersifat jangka pendek (trading) dan dapat berubah sesuai kondisi pasar terkini. Selalu lakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan.

Tips Memilih Saham di Saat Market Crash

Saat pasar mengalami koreksi tajam seperti ini, bagaimana cara memilih saham yang tepat?

1. Pilih Sektor Defensif

Sektor yang cenderung tahan banting saat market crash antara lain:

  • Komoditas (emas, batu bara)
  • Consumer goods (makanan, minuman)
  • Healthcare dan farmasi
  • Telekomunikasi

2. Perhatikan Fundamental Emiten

Beberapa indikator yang perlu dicermati:

  • Rasio utang terhadap ekuitas (DER)
  • Arus kas operasional positif
  • Margin keuntungan yang stabil
  • Dividen yang konsisten

3. Gunakan Manajemen Risiko

Prinsip dasar yang wajib diterapkan:

  • Jangan all-in di satu saham
  • Selalu pasang cutloss
  • Ambil posisi secara bertahap (cicil)
  • Siapkan dana cadangan untuk averaging down

4. Hindari Panic Buying

Meski harga terlihat murah, jangan terburu-buru masuk. Tunggu konfirmasi pembalikan tren atau setidaknya ada tanda-tanda perlambatan tekanan jual.

5. Pantau Sentimen dan Berita

Saat kondisi tidak pasti seperti sekarang, berita bisa menggerakkan pasar secara signifikan. Pantau terus perkembangan terkait:

  • Kebijakan MSCI selanjutnya
  • Respons regulator Indonesia (OJK, BEI)
  • Pergerakan investor asing
  • Kondisi makroekonomi global

Waspada Penipuan dan Kontak Layanan Resmi

Di tengah kepanikan pasar, oknum tidak bertanggung jawab kerap memanfaatkan situasi untuk melancarkan aksi penipuan.

Modus Penipuan yang Perlu Diwaspadai

  • Grup telegram atau WhatsApp yang menjanjikan rekomendasi saham “pasti cuan”
  • Akun palsu yang mengatasnamakan analis atau sekuritas ternama
  • Penawaran investasi dengan return tidak wajar
  • Phishing yang menyerupai aplikasi trading resmi
Baca Juga:  IHSG Naik 2,16% Sepekan: Tembus 9.000, Rekor Tertinggi & Kapitalisasi Rp16.301 Triliun

Kontak Layanan Resmi

Instansi Kontak Website
Bursa Efek Indonesia (BEI) 021-515 0515 idx.co.id
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 157 / WA 081157157157 ojk.go.id
BNI Sekuritas 1500046 bnisekuritas.co.id

Pastikan selalu bertransaksi melalui aplikasi atau platform resmi yang terdaftar dan diawasi oleh OJK. Jangan pernah memberikan data pribadi, PIN, atau password kepada pihak manapun.

Penutup

Kondisi IHSG yang anjlok hingga 6,45 persen memang mengkhawatirkan, namun setiap krisis selalu menyimpan peluang. Saham-saham berbasis emas seperti HRTA, ANTM, EMAS, PSAB, dan ARCI menjadi pilihan menarik di tengah ketidakpastian ini, sementara DOOH hadir sebagai alternatif trading momentum.

Seluruh rekomendasi dalam artikel ini bersumber dari analisis BNI Sekuritas per 29 Januari 2026 dan bersifat edukatif. Kondisi pasar sangat dinamis dan data dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan terbaru. Keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Semoga informasi ini bermanfaat. Tetap tenang, disiplin, dan selalu gunakan dana yang siap untuk rugi. Sukses selalu!

FAQ

Apa penyebab IHSG anjlok pada 29 Januari 2026?

Penyebab utama adalah keputusan MSCI (Morgan Stanley Capital International) membekukan sementara proses rebalancing indeks untuk saham-saham Indonesia. Hal ini memicu aksi panic selling dari investor asing yang tercatat melakukan net sell sebesar Rp6,12 triliun dalam sehari.

Saham apa saja yang direkomendasikan saat IHSG turun?

BNI Sekuritas merekomendasikan 6 saham untuk trading, yaitu HRTA (Hartadinata Abadi), ANTM (Aneka Tambang), EMAS (Merdeka Gold Resources), PSAB (J Resources Asia Pacific), ARCI (Archi Indonesia), dan DOOH (Era Media Sejahtera). Mayoritas adalah saham berbasis emas yang cenderung defensif saat pasar bergejolak.

Apa itu rebalancing MSCI dan mengapa berdampak ke IHSG?

Rebalancing MSCI adalah proses penyesuaian bobot saham dalam indeks MSCI secara berkala. Ketika MSCI mengubah bobot atau membekukan proses ini, manajer investasi global wajib menyesuaikan portofolio mereka. Hal ini bisa memicu arus keluar dana besar dari pasar yang terdampak, termasuk Indonesia.

Berapa level support dan resistance IHSG saat ini?

Berdasarkan analisis BNI Sekuritas, level support IHSG berada di rentang 8.050-8.100, sementara level resistance berada di 8.350-8.400. Jika IHSG mampu bertahan di area support, ada potensi untuk rebound.

Apakah aman membeli saham saat IHSG crash?

Membeli saham saat market crash bisa menjadi peluang, namun juga berisiko tinggi. Pastikan untuk memilih saham dengan fundamental kuat, gunakan manajemen risiko yang ketat, pasang cutloss, dan jangan menggunakan dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. Selalu lakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan.

Bagaimana cara menghindari penipuan investasi saham?

Untuk menghindari penipuan, pastikan hanya bertransaksi melalui sekuritas yang terdaftar dan diawasi OJK. Waspadai grup atau akun yang menjanjikan keuntungan pasti, jangan berikan data pribadi atau password kepada siapapun, dan verifikasi informasi melalui kanal resmi seperti IDX (021-515 0515) atau OJK (Kontak 157).

Eduardo Simorangkir, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis profesional dengan keahlian editorial, investigative reporting & digital media.
Jurnalis

Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.