Beranda » Nasional » Menghadapi Tantangan Ekonomi dengan Agility, Arsjad Rasjid Ungkap Satu Kata Kunci yang Efektif untuk Adaptasi Bisnis Era Modern 2025

Menghadapi Tantangan Ekonomi dengan Agility, Arsjad Rasjid Ungkap Satu Kata Kunci yang Efektif untuk Adaptasi Bisnis Era Modern 2025

Di tengah gejolak ekonomi global yang belum juga mereda, Indonesia tetap berupaya menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu tokoh yang memberikan pandangan menarik soal strategi menghadapi tantangan ekonomi adalah Arsjad Rasjid. Ia menyimpulkan bahwa kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi adalah hanya satu kata: agility.

Agility, dalam konteks ini, bukan sekadar fleksibilitas biasa. Ini adalah kemampuan untuk beradaptasi cepat terhadap perubahan, baik dalam kebijakan, pasar, maupun kondisi global. Pandangan ini relevan mengingat tantangan ekonomi saat ini semakin kompleks dan dinamis, terutama sejak dampak pandemi hingga ketegangan geopolitik global.

Mengapa Agility Menjadi Kunci Utama

Arsjad Rasjid menekankan bahwa agility bukan hanya penting untuk perusahaan swasta, tetapi juga untuk pemerintah dan lembaga publik. Kemampuan untuk cepat merespons perubahan adalah modal utama dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional.

1. Adaptasi Kebijakan yang Cepat

Pemerintah perlu mampu menyesuaikan kebijakan ekonomi secara cepat dan tepat. Misalnya, saat terjadi kenaikan harga energi global, kebijakan subsidi energi harus bisa disesuaikan tanpa menunggu terlalu lama.

2. Respons Terhadap Krisis Global

Dengan agility, Indonesia bisa lebih cepat merespons krisis global seperti kenaikan suku bunga AS atau krisis rantai pasok. Respons yang lambat bisa memperparah dampak negatif terhadap rupiah dan investasi.

Faktor Pendukung Agility dalam Ekonomi Nasional

Membangun agility bukan hal yang instan. Ada beberapa faktor yang harus disiapkan agar sistem ekonomi bisa lebih responsif dan adaptif terhadap perubahan.

1. Infrastruktur Digital yang Kuat

Infrastruktur digital menjadi tulang punggung agility. Data ekonomi yang real time, sistem perbankan digital, dan platform e-commerce memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat.

2. SDM yang Kompeten dan Adaptif

Sumber daya manusia harus dilengkapi dengan keterampilan digital dan pemahaman ekonomi modern. Pelatihan berkelanjutan dan pendidikan berbasis teknologi menjadi kunci.

Baca Juga:  Ekonomi RI Tetap Tumbuh Positif, Purbaya Pastikan Masih Jauh dari Resesi!

3. Regulasi yang Ramah Inovasi

Regulasi yang kaku bisa menghambat agility. Oleh karena itu, pemerintah perlu menciptakan regulasi yang fleksibel namun tetap menjaga keamanan dan keadilan pasar.

Strategi Pemerintah dalam Meningkatkan Agility Ekonomi

Sejak tahun 2024, pemerintah Indonesia telah memulai beberapa langkah strategis untuk meningkatkan agility ekonomi nasional. Berikut adalah beberapa langkah konkret yang telah diambil.

1. Pembentukan Satuan Tugas Khusus Respon Ekonomi Global

Satuan tugas ini bertugas memantau perkembangan ekonomi global dan memberikan rekomendasi kebijakan dalam waktu singkat. Tujuannya adalah agar kebijakan bisa disesuaikan secara cepat tanpa melalui birokrasi yang terlalu panjang.

2. Digitalisasi Layanan Perizinan dan Investasi

Melalui sistem OSS (Online Single Submission), pemerintah mempercepat proses perizinan investasi. Ini memungkinkan investor asing dan lokal untuk beradaptasi dengan cepat terhadap peluang pasar.

3. Penguatan UMKM melalui Platform Digital

Pemerintah juga mendorong UMKM untuk go digital melalui berbagai platform seperti Tokopedia, Shopee, dan marketplace lokal lainnya. Ini membantu pelaku usaha kecil tetap kompetitif meski dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meskipun agility menjadi fokus utama, ada beberapa tantangan yang masih perlu diperhatikan agar strategi ini bisa berjalan optimal.

1. Kesenjangan Akses Digital

Masih banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki akses internet yang memadai. Ini bisa menghambat penerapan strategi berbasis digital, terutama di sektor UMKM dan pertanian.

2. Resistensi terhadap Perubahan

Birokrasi yang terlalu kaku dan resistensi terhadap perubahan di kalangan pejabat masih menjadi penghalang agility. Perlu ada reformasi budaya kerja agar lebih terbuka terhadap inovasi.

3. Ketidakpastian Global yang Terus Berlanjut

Ketegangan antara Amerika dan China, krisis energi global, serta ketidakstabilan geopolitik masih menjadi tantangan besar. Agility bisa membantu, tapi tidak menjamin ketahanan penuh terhadap risiko luar negeri.

Baca Juga:  Fenomena Lipstick Effect Menunjukkan Pola Konsumsi Unik di Tengah Krisis Ekonomi Berkepanjangan

Perbandingan Pendekatan Agility dengan Model Ekonomi Tradisional

Aspek Model Ekonomi Tradisional Pendekatan Agility
Kecepatan Respons Lambat, tergantung prosedur Cepat, berdasarkan data real time
Fleksibilitas Kebijakan Rendah, terikat regulasi kaku Tinggi, regulasi adaptif
Pengambilan Keputusan Terpusat dan birokratis Terdistribusi dan kolaboratif
Sumber Daya Manusia Fokus pada pengalaman lama Fokus pada kemampuan adaptasi

Proyeksi Ekonomi Indonesia 2025–2026

Berdasarkan data dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, berikut adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua tahun terakhir.

Tahun Pertumbuhan Ekonomi (Estimasi) Inflasi (Target) Stabilitas Rupiah
2025 5,2% 3,0% Stabil
2026 5,5% 2,9% Relatif Stabil

Disclaimer: Data di atas merupakan estimasi dan dapat berubah tergantung perkembangan ekonomi global dan kebijakan domestik.

Penutup

Arsjad Rasjid dengan tegas menyatakan bahwa agility adalah satu-satunya kata yang bisa menyelamatkan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Ini bukan sekadar strategi jangka pendek, tapi sebuah paradigma baru dalam mengelola ekonomi nasional. Dengan infrastruktur digital, SDM yang adaptif, dan regulasi yang fleksibel, Indonesia bisa tetap tumbuh meski dunia sedang bergolak.

Langkah-langkah konkret yang diambil pemerintah sejak 2024 menunjukkan komitmen serius untuk mewujudkan agility ini. Namun, tantangan seperti kesenjangan digital dan resistensi birokrasi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diselesaikan.

Di tahun 2026, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu ekonomi yang paling tangguh di Asia Tenggara, asal agility tetap menjadi prinsip utama dalam setiap kebijakan ekonomi nasional.

Eduardo Simorangkir, Editor/Reporter/Penulis detik.com & banjoo.id. Jurnalis profesional dengan keahlian editorial, investigative reporting & digital media.
Jurnalis

Khusnul Ain adalah jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Editor, Reporter, dan Penulis. Dengan pengalaman luas dalam dunia jurnalistik digital, Eduardo menggabungkan kemampuan editorial yang tajam dengan kepekaan terhadap berita aktual dan tren pasar digital.